Review Film "The New Rules of The World"
Sutradara : Alan
Lowery
Produser :
John Pigler
Bahasa :
Inggris
Penghargaan : Gran Prix Leonardo Award, 2003;
Certificate of Merit, Chicago International Television Awards, 2003.
Film documenter karya John
Pigler ini menceritakan tentang globalisasi dan dampak dari perdagangan bebas
bagi negara dunia ketiga, khususnya Indonesia. Film ini menceritakan bahwa
globalisasi yang katanya akan menumbuhkan perekonomian dan mensejahterakan
masyarakat kecil, malah menampakkan sebaliknya. Kapitalis-kapitalis Amerika dan
barat telah menjadikan Indonesia sebagai sarang yang nyaman untuk melakukan
produksinya dengan melakukan eksploitasi dan dehumanisasi terhadap para
pekerjanya. Para pekerja diberi upah yang rendah dan disuruh berkerja melebihi
batas jam kerjanya. Kebanyakan dari para pekerjaanya adalah perempuan muda dan
tempat tiggal merekapun kurang layak disebut sebagai tempat tinggal. Upah mereka
bahkan tidak mampu membeli barang yang mereka produksi sendiri. Seperti yang
disebutkan oleh John Pigler sendiri, ia membeli sepasang sepatu dari brand
ternama GAP senilai 1,4 juta rupiah. Ia menyebutkan bahwa produk tersebut di
produksi di Indonesia yang buruh-buruh pekerjanya hanya di upahi 5000 rupiah. Sungguh
miris dan memprihatinkan! Dari contoh diatas dapat kta lihat ketimpangan yang
luar biasa.
Ketimpangan lain yang dapat
kita lihat dari film ini ditunjukkan ketika adanya sepasang kekasih dari
golongan bangsawan yang mengadakan pesta pernikahan dengan sangat mewah. Saking
mewahnya, dijelaskan dalam film ini, seorang pelayan yang melayani resepsi ini
membutuhkan waktu 400 tahun bila ingin mengadakan pesta semacan ini. Dan tidak
jauh dari tempat berlangsungnya pesta pernikahan tersebut, terdapat sebuah perkampungan kumuh tempat
buruh-buruh pekerja GAP, Nike, dan Adidas. Dapat kita lihat disini bahwa dengan
adanya globalisasi dan perdagangan bebas seperti ini, dengan kapitalis-kapitalis
yang bisa dibilang sangat kejam, orang-orang kaya akan bertambah kaya dan
orang-orang miskin akan bertambah miskin.
Film ini mengungkap sejarah
bagaimana pembunuhan massal yang dilakukan di rezim Soeharto dapat membuka
pintu globalisasi di Indonesia. Soeharto yang ternyata didukung oleh Amerika,
Inggris dan pengusaha barat sehingga dapat memimpin hingga tiga decade ini,
telah mengubah perekonomian Indonesia menjadi seperti Amerika. Perubahan ini
dilakukan untuk mempermudah barat dalam menguasai sumber mineral, pasar dan
buruh murah. Jasa besar yang dilakukan oleh Soeharto untuk barat adalah dengan
menyingkirkan Soekarno yang mengusir agen-agen barat seperti World Bank dan IMF
dan selalu percaya akan kemandirian ekonomi rakyat. Sejak tragedy tersebut,
World Bank dan IMF masuk kembali ke Indonesia dan mulai melakukan segala kepentingannya.
Pada tahun 1967, perusahaan Timelife mengadakan konferensi di Swiss untuk
memmbicarakan pengalihambilan bisnis di Indonesia. Konferensi itu dihadiri oleh
sejumlah pengusaha besar barat dan Presiden Soeharto sendiri.
Organisasi dunia seperti World
Bank dan IMF memasuki perekonomian Negara-negara dunia ketiga dengan cara
meminjami sejumlah dana kepada Negara-negara tersebut. Hutang dijadikan sebagai
alat untuk membuat kebijakan perekonomian di Negara dunia ketiga. sehingga
masyarakat yang menanggung beban hutang tersebut. Mereka harus menyisihkan
sebagian penghasilan mereka untuk membayar hutang luar negri. Sebenarnya mereka
terperangkap dalam perangkap kemiskinan. Bahkan jika penghapusan hutang
dilakukan, mereka tetap tidak dapat keluar dari kemiskinan. Itu bukan lagi soal
hutang yang menumpuk, tetapi karena adanya tekanan-tekanan untuk meminjam
kembali dan karena pemerintah serakah yang melakukan korupsi.
World Bank mengatakan bahwa
tujuan mereka adalah untuk membantu rakyat miskin dengan mempromosikan
pembangunan global. Namun yang terlihat disini adalah orang kaya menjadi tambah
kaya dengan terbebasnya mereka dari hutang, buruh murah dan terbebas dari
pajak. Sedangkan orang miskin menjadi bertambah miskin karena pekerjaan dan
layanan public harus dicabut untuk pembayaran hutang ke World Bank. Kejadian hutang
mengutang ini terjadi di seluruh penjuru dunia, khususnya di Negara dunia
ketiga. setiap hari lebih dari satu triluin rupiah disetor Negara miskin di didunia
untuk membayar hutang mereka.
Saran IMF kepada pemerintah,
untuk pembayaran hutang maka harus dicabutnya subsidi-subsidi untuk masyarakt. Subsidi
makanan, kesehatan, sekolah, pelayanan public, pertanian, semua dicabut demi
melunasi hutang. Produktivitas yang menurun disebabkan oleh kurangnya pangan
sehingga mereka tidak dapat bekerja semestinya.
Sekarang gerakan anti
gloalisasi sudah marak dilakukan oleh Negara-negara timur seperti Amerika
Latin, Asia, Afrika, bahkan sudah menyebar hingga ke barat seperti London,
Melbourne, Seattle, dll. Tetapi media hanya memberitakan jika terjadinya
kekerasan dalam aksi tersebut. Sedangkan para pelanggar kebijakan ekonomi yang
diprotes oleh rakyat tidak diberitakan dan malah ditutup-tutupi. Itu semua
antuk menjauhkan dukungan public terhadap pengunjuk rasa.
Belum lagi dengan kebijakan
baru yang dibuat oleh WTO. Kebijakan perdagangan bebas yang dibuat oleh WTO ini
tidak dapat dihalangi oleh pemerintah suatu Negara sekalipun. Yang salah disni
adalah, tidak adanya peraturan khusus tentang perdagangan bebas. Ini yang
membuat pebisnis-pebisnis internasional semakin kaya.
Yang dapat kita lihat disini
adalah globalisasi yang lebih berdampak buruk bagi Negara dunia ketiga.
Ketergantungan dan eksploitasi sumber daya manusia oleh kapitalis-kapitalis
serakah telah membuat sejumlah Negara sulit untuk berkembang.

Comments
Post a Comment